Minggu, 17 Februari 2019

LOGIKA LUCU “JOKOWI TIDAK ANTI ISLAM”

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani
Para pendukung Jokowi tidak rela rupanya jagoannya disebut sebagai rezim yang anti Islam. Mereka berupaya menjawab berbagai tuduhan itu dengan sekuat tenaga, meskipun cenderung mengada-ada, agar umat Islam percaya dengan penjelasannya, dan menuding hoax semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Sebagaimana diketahui, bahwa Era Kepemimpinan Jokowi dikenal sebagai rezim yang anti Islam. Pasalnya, begitu banyak Peraturan Daerah yang bernuansa Islam yang dipermasalahkan oleh mereka. Bahkan sebagiannya lagi sudah banyak yang dihapuskan. Di sisi lain, banyak aktifis-aktifis Islam yang kritis dan menawarkan konsep Islam yang justru dikriminalkan.
Mereka dituduh radikal, dicap teroris dan diberi berbagai stigma buruk yang keterlaluan. Masyarakat digiring agar membenci dan menolak keberadaan mereka. Lalu orang-orang yang sudah terbawa propaganda busuk Istana itu pun akan mendapat predikat “kemuliaan,” yakni disebut sebagai penjaga NKRI dan Pancasila.
Itulah beberapa alasan yang menjadikan Jokowi mau tidak mau harus menerima disebut sebagai Pemimpin yang anti Islam. Meskipun ia dan para pendukungnya berkata tidak, tetapi apalah daya masyarakat sendiri yang menilainya, setelah mereka melihat fakta yang hilir mudik di depan mata.
Dengan kondisi yang sudah seperti itu, para pendukung rezim petahana ini pun berusaha untuk meluruskannya. Mereka menjelaskan, bahwa Pemerintah sekarang ini tidak anti Islam. Buktinya, Jokowi tidak melarang umat Islam sholat. Ia juga tidak melarang umat Islam berangkat umroh dan haji.
Apabila memang Jokowi anti Islam, pasti ia akan melarang sholat, menutup kuota haji dan menentang ibadah Puasa sebagaimana yang terjadi di Tiongkok (China). Nyatanya, semua itu tidak terjadi. Jokowi masih membolehkan sholat, zakat, puasa dan haji. Itu artinya Jokowi tidak anti Islam. Begitulah kira-kira nalar mereka membela.
Padahal logika semacam itu sangatlah berbahaya. Karena jika logika semacam itu tetap dipertahankan, lalu bagaimana dengan Belanda yang dahulu pernah menjajah Nusantara. Selama 3,5 abad mereka menjajah negeri ini tetapi mereka tidak mempermasalahkan orang sholat. Buktinya, banyak masjid-masjid kuno yang hingga saat ini masih kokoh berdiri, tidak dihancurkan oleh mereka.
Mereka pun tidak melarang umat Islam puasa, zakat dan haji. Segala macam perkara perdata, nikah secara Islam, waris dan yang lainnya tidak pernah dilarang oleh Belanda. Yang dilarang keras adalah umat Islam mengkritik kesewenang-wenangan mereka. Termasuk di sini adalah memaksa Belanda untuk menerapkan Hukum-hukum Islam secara kaffah.
Belanda pun tidak melarang pembangunan Pondok Pesantren. Sebuah literatur sejarah menceritakan, bahwa justru berdirinya beberapa Pesantren di Jawa Barat merupakan hasil dari balas jasa Penjajah-Belanda untuk para kiai dan tokoh yang mau diajak bekerjasama dengan mereka untuk memberantas wabah penyakit kolera. Yang dimusuhi oleh Belanda hanyalah Pesantren-pesantren yang selalu membangkang terhadap keputusan-keputusan politik mereka.
Pertanyaannya adalah, jika Jokowi tidak disebut sebagai anti Islam hanya karena tidak melarang umat Islam sholat, zakat, puasa, haji, penerapan Hukum Perdata Islam dan berdirinya Pondok Pesantren, lalu bagaimana dengan Belanda yang dulu pernah menjajah negeri kita. Mereka pun sama tidak melarang itu semua.
Beranikah para pendukung Jokowi menyatakan bahwa Penjajah-Belanda juga tidak anti Islam ?
#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 1 Februari 2019

PRIBUMI BERMENTAL BUDAK

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa lamanya bangsa ini dijajah oleh Belanda di antaranya disebabkan banyaknya pribumi yang bermental budak. Tanpa adanya pencerahan yang disampaikan oleh Para Pahlawan bangsa, mereka tidak akan mempunyai keberanian untuk menentang penjajah. Mereka akan tetap berada pada kondisinya yang tertindas di bawah telapak kaki Belanda.
Bayangkan, tiga ratus lima puluh tahun lamanya bangsa ini diperas oleh Belanda. Sebuah rentang waktu yang tidak sebentar. Apabila kita hitung saja dengan perjalanan hidup seseorang, maka minimalnya itu sudah lebih dari tujuh keturunan. Berarti sudah tujuh generasi negeri ini dijajah.
Lalu kemana saja rakyat Indonesia selama itu? Tidak adakah perlawanan dari mereka terhadap Belanda? Sebenarnya ada perlawanan dari rakyat nusantara terhadap penjajah, tetapi jumlahnya hanya beberapa saja. Pribumi yang acuh dengan keadaan lebih banyak daripada mereka yang lantang menggelorakan semangat perlawanan.
Mereka yang tidak peduli pada umumnya, selain karena takut melawan, juga karena mempunyai prinsip ‘Siapa saja yang menjadi pemimpin yang penting bisa bekerja. Tidak peduli apakah itu orang asing, orang kafir, yang penting bisa memimpin.’ Apalagi dibuktikan bahwa Belanda mampu membangun infrastruktur berupa transportasi kereta api dan jalan raya.
Begitulah mental budak yang ada pada sebagian pribumi di masa lalu, yang membuat penjajah bisa bertahan lama mencengkeram Indonesia. Lebih-lebih, sebagian dari mereka ada yang menjadi pegawai Belanda, menjadi demang, yang diberikan tunjangan hidup olehnya. Tidak peduli Belanda itu asing, kafir, yang penting ia sudah diberi pekerjaan oleh mereka.
Saya tidak tahu, seandainya rakyat Indonesia yang saat ini hidup ditempatkan pada suasana penjajahan (fisik) dahulu, mereka akan berada di kubu siapa. Apakah di kubu Pangeran Diponegoro yang berani menentang kebijakan-kebijakan Belanda, atau justru di kubu penjajah, dengan alasan tidak apa-apa Belanda kafir juga, yang penting bisa bekerja.
Terlebih lagi, Belanda pada saat itu sudah mencengkeram kuat sebagian Keraton-keraton di nusantara sebagai pemerintahan yang sah bagi pribumi. Andai orang Indonesia yang saat ini diposisikan pada zaman itu, adakah di antara mereka yang berani menentang kerajaannya, atau justru mereka bersikap lembek dengan alasan bahwa biar bagaimanapun juga Raja-raja itu adalah ulim amri yang sah dan wajib ditaati.
Semua itu adalah imajinasi saya, yang terpantik dari sebuah realita, bahwa saat ini pun banyak orang yang tidak peduli dengan aturan kepemimpinan dalam Islam. Tidak masalah seseorang kafir ataupun bukan, yang penting bisa bekerja maka ia akan mendukungnya. Tidak peduli aseng, asing atau bukan, asalkan bisa memberi modal maka ia akan memuliakannya.
Seperti itulah mental budak yang menjangkiti sebagian pribumi. Tidak berani menentang, apalagi melawan. Asalkan masih bisa makan, masih bisa ibadah, siapapun pemimpinnya, kafir, asing, aseng ataupun bukan, maka ia akan menjadi kacung setianya. Andai saja dahulu negeri ini semua rakyatnya semacam itu, saya yakin Belanda tidak akan pernah hengkang seperti sekarang ini.
Cirebon, 13 Februari 2019